Facebook

Senin, 23 Maret 2015

Foto Yang Terjatuh


Hari ini selepas Sholat Dzuhur.
Siang ini, saya tunaikan Sholat Dzuhur di kos, entah mengapa, walau biasanya akhir-akhir ini sering saya tunaikan di masjid dekat kos. Selepas Dzuhur, layaknya yang dulu-dulu, selalu sya isi dengan dzikir dan doa, sebisa saya. Mengirim doa untuk Bapak serta Ibu, saudara dan diri saya.
Tapi siang ini, entah mengapa, tepat saya tutup doa akhir dzuhur, pas foto Bapak dan Ibu yang tergantung di kamar terjatuh, tepat berhenti di punggung saya. Syukur tak ada kerusakan apa-apa. Semoga juga bukan pertanda akan terjadi apa-apa. Cuma kangen saja, semoga.

Tembalang, 23 Maret 2015

Minggu, 22 Maret 2015

Rumah


Akhir pekan ini berkesempatan pulang ke Purbalinga, setelah 3 bulan tidak pulang, kali ini menemani Donna memindah barang-barang dari kos ke rumah Sokaraja, serta kondangan ke pernikahan seorang senior. Rutinitas “pulang” pada awal saya kuliah di Semarang, amat sering saya lakukan, menengok dan menemani Ibu adalah tujuan utamanya. Dua kali dalam kurun waktu sebulan, pasti saya sempatkan.
Selepas wafatnya Ibu, saya jarang pulang ke Purbalingga. Karena “tak ada lagi” yang musti ditengok di rumah, kebetulan Bapak masih aktif dinas di luar pulau, dan kakak-kakak yang juga jauh merantau. Jadilah, rumah kosong,hanya ditunggu seorang pembantu, yang sudah puluhan tahun setia membantu di rumah kami.  sesekali sewaktu saja ada long weekend, kami memang janjian untuk pulang, temu kangen di rumah, barulah rumah menjadi “berpenghuni lagi”.

Rabu, 18 Maret 2015

Tanpa Ilmu

Seharian ini teman kos beberapa kali meminta waktu saya untuk take video dan wawancara. Untuk tugas kuliah selorohnya, ketika saya tanya untuk apa wawancara tersebut. Tapi beberapa kali itu pula saya tolak, bukan karena tak ada waktu, toh saya juga sedang nganggur di kos selama ini, tapi jauh karena topik yang Ia ajukan. Wawancara bagi saya sudah menjadi hal biasa, setahun kemarin selama menjadi Presiden IYPInstitute, tiap bulan ada saja yang meminta wawancara.
Ya topik yang dia ajukan bukan bidang ilmu yang saya pelajari selama ini. Saya tolak permintaannya karena saya tidak mau berkomentar, berpendapat apalagi sampai dianggap menghakimi pada sesuatu tanpa saya ketahui ilmunya. Itu prisip bagi saya, karena tanpa ilmu yang mumpuni, pendapat kita hanya bualan, tak jarang justru bisa memperlihatkan ketidaktahuan kita.

Sore ini selepas mandi, Ia masih membujuk, “ayolah mas, baca buku bentar dulu, kan jadi udah ada ilmunya”. Tapi saya masih pada jawaban yang sama, “saya tak punya ilmunya”. Bagi saya, membaca sepintas seperti yang Ia sarankan, hanya memberi kita gambaran kulit, bukan inti dari permasalahan. Setangkup maaf saya ucapkan, tidak dapat membantu tugas kuliahnya.

Tembalang, 18 Maret 2015